Belajar Bahasa Sunda [sejarah, aksara swara, dan aksara ngalagena]

Belajar Bahasa Sunda [sejarah, aksara swara, dan aksara ngalagena]

Belajar bahasa sunda – Sekarang kita akan belajar bahasa sunda mulai dari yang paling mudah terlebih dahulu. Sebelum itu, kita harus tahu dulu mengenai sejarah bahasa sunda agar menambah semangat kita untuk mempelajarinya.

Oke, langsung saja kita bahas. Bahasa Sunda

Sejarah Bahasa Sunda

Asal muasal

Bahasa Sunda merupakan salah satu kekayaan budaya yang dimiliki Indonesia. Berdasrakan data sensus yang dilakukan pada tahun 2000, bahasa Sunda dituturkan oleh 34 juta jiwa. Namun, penelitian terbaru yang dilakukan oleh Balai Bahasa Bandung (2008-2009) menunjukkan bahwa jumlah keluarga saat ini yang menggunakan bahasa sunda dalam pergaulan sehari-hari tinggal 43 persen saja. Balai Bahasa Bandung melakukan penelitian tersebut di sejumlah kota, yakni: Kota Bandung, Kabupaten Bandung, Tasikmalaya, Cirebon, Garut, Ciamis, dan Banjar. Penelitian dilakukan terhadap 900 keluarga.

Kapan bahasa Sunda ini lahir? Tidak ada yang mengetahui secara pasti. Namun, peneliti menemukan suatu prasasti dari abad ke-14 yang ditemukan di Kawali, Ciamis. Prasasti tersebut berupa batu alam dan di permukaannya terukir aksara dan Bahasa Sunda (kuno). Diperkirakan, prasasti ini ada pada zaman Prabu Niskala Wastukancana (1397-1475). Pada prasasti tersebut, adalah salah satu teks yang berbunyi,

Nihan tapak walar nu siya mulia, tapak inya Prabu Raja Wastu mangadeg di Kuta Kawali, nu mahayuna kadatuan Surawisésa, nu marigi sakuliling dayeuh, nu najur sakala désa. Ayama nu pandeuri pakena gawé rahayu pakeun heubeul jaya dina buana.

inilah peninggalan mulia, sungguh peninggalan Prabu Raja Wastu yang bertakhta di Kota Kawali, yang memperindah keraton Surawisesa, yang membuat parit pertahanan sekeliling ibukota, yang menyejahterakan seluruh negeri. Semoga ada yang datang kemudian membiasakan diri berbuat kebajikan agar lama berjaya di dunia.

Bahasa Sunda sempat menjadi bahasa resmi di tatar pasundan. Namun, pernah mandeg ketika jatuhnya Pajajaran (sekitar abad 17) dan tatar Sunda berada di bawah kerajaan Mataram, zaman Amangkurat I. Saat itu, bahasa formal menggunakan bahasa Jawa, sedangkan bahasa Sunda hanya digunakan sebagai bahasa sehari-hari saja. Bahkan, Rafles kala itu hanya menganggap bahwa Bahasa Sunda merupakan dialek dari Bahasa Jawa.

Bahasa Sunda kembali ramai digunakan semenjak abad ke-19 karena diketahui bahwa orang sunda memiliki banyak budaya tersendiri, sama seperti halnya melayu dan jawa. Bahasa Sunda resmi diakui sebagai bahasa mandiri mulai tahun 1841 yang ditandai dengan diterbitkannya kamus bahasa Sunda pertama di Amsterdam. Kamus Bahasa Belanda-Melayu dan Sunda ini disusun oleh Roorda, seorang sarjana Bahasa Timur kala itu. Sedangkan, senarai kosa kata Sunda dikumpulkan oleh seorang ahli bahasa bernama De Wilde.

Selain itu, seorang Belanda yang memiliki peran cukup besar dari hadinya budaya cetak dalam bahasa Sunda adalah Karel Frederik Holle atau K.F. . K.F. Holle sebenarnya adalah seorang yang ikut dalam pelayaran warga Belanda, pimpinan Guillaume Louis Jacques van der Hucth yang pada tahun 1843 berlayar dari Belanda menuju tanah harapan di timur jauh, Hindia Belanda.

K.F. Holle | sumber foto: rakyatdigital.com

Pertengahan abad ke-19 tersebut menjadi momen dimana Bahasa Sunda semakin digunakan di berbagai tingkatan sosial orang-orang Sunda, termasuk dalam karya Sastra. Selain itu, bahasa Belanda mulai mempengaruhi kosa-kata bahasa Sunda maupun ejaannya yang dituliskan dalam bentuk aksara latin. Beberapa kosakata Bahasa Belanda yang masuk ke Bahasa Sunda seperti: sepur, langsam, masinis, buku, dan kantor. Selain bahasa Belanda, melayu pun masuk dan mempengaruhi kosakata Bahasa Sunda. Apalagi, semenjak bahasa melayu modern yang kemudian disepakati sebagai bahasa persatuan, Bahasa Indonesia sejak tahun 1928.

Dialek Bahasa Sunda

Dialek (basa wewengkon) yang dimiliki bahasa Sunda pun beragam,mulai dari dialek Sunda-Banten, sampai dengan dialek yang tercampur dengan bahasa Jawa (dialek Sunda-Jawa Tengahan). Para pakar, biasanya membagi dialek tersebut ke dalam enam jenis, yakni:

  • Barat
  • Dialek Utara
  • Dialek Selatan
  • Dialek Tengah Timur
  • Dialek Timur Laut
  • Dialek Tenggara

Dialek barat mencakup daerah Banten Selatan. Dialek Utara mencakup daerah Sunda sebelah utara, seperti kota Bogor dan beberapa bagian Pantura. Selanjutnya, dialek Selatan adalah dialek priangan yang mencakup kota Bandung dan sekitarnya. Kemudian dialek tengah timur adalah dialek di sekitar majalengka. Lalu, dialek Timur Laut adalah dialek di sekitar kuningan, dan dipertuturkan juga di beberapa bagian Brebes, Jawa Tengah. Adapun dialek Tenggara, adalah dialek sekitar Ciamis.

Sejarah Aksara Sunda

Aksara sunda sebenarnya mendapatkan pengaruh dari aksara Pallawa India. Namun, meskipun bersumber dari aksara Pallawa, bentuknya sudah mengalami “pelokalan” dimana karakteristik aksara sudah menunjukkan kekhasan masyarakat Sunda (kuno). Aksara sunda kuno digunakan dalam beragam prasasti di masa abad ke-14 dahulu dan menjadi cikal bakal lahirnya aksara Sunda standar atau yang bisa kita sebut Aksara Sunda Ka-Ga-Nga.

Akhirnya, pada tahun 1999 dikeluarkan Surat Keputusan nomor 434/SK.614-Dis.PK/99 tentang pembakuan aksara Sunda. Sehingga, penggunaan aksara Sunda disebarluaskan pemakaiannya di lingkungan masyarakat Sunda, khususnya di Jawa Barat. Selain itu, aksara sunda juga sudah didaftarkan kepada Konsorsium Internasional Unicode, sehingga telah memiliki slot khusus dalam komputasi aksara dunia.

Nah, selanjutnya, kita akan bersama-sama belajar bahasa sunda dimulai dengan mengetahui terlebih dahulu aksara sunda, swara (vokal) dan ngalagena (konsonan) ya. Berikut penjelasannya.

Aksara Sunda

Berdasarkan bentuk dari tata tulisnya, aksara Sunda “standar” berjumlah 30 aksara, dimana mencakup 7 aksara “swara” (vokal mandiri) dan 23 aksara “ngalagena” (konsonan). Aksara swara maupun ngalagena bisa menempati posisi awal, tengah, maupun akhir dari suatu kalimat.

Aksara Sunda Swara (Vokal Mandiri)

Aksara Sunda memiliki 7 huruf vokal, berbeda dengan bahasa Indonesia mupun latin yang hanya memiliki 5 vokal saja. Selain huruf vokal yang ada pada bahasa Indonesia, ada dua tambahan huruf vokal lain, yakni: é dan eu.

Bagaimana membedakan antara e, é dan eu ? Saya akan coba berikan contoh. Perbedaan bunyi kedua huruf tersebut seperti pada kata:

  • é : bunyinya seperti e pada kata ‘apel‘ yang artinya upacara.
  • e : bunyinya seperti e pada kata ‘apel‘ yang artinya buah.
  • eu : digunakan untuk kata-kata yang mengharuskan adanya penekanan bunyi e yang kuat. Seperti pada kata “peuyeum“, tidak boleh kemudian dibaca dengan “peyem“. Bahkan, bisa saja berbeda arti, seperti kata “hideung” yang artinya hitam, dengan kata “hideng” yang artinya rajin.

Berikut tampilan dari aksara swara (vokal mandiri)

Aksara Ngalagena (konsonan)

Aksara ngalagena memiliki sifat “logo-silabik” dimana tulisan yang mewakili suatu kata atau suku kata. Pada awalnya, aksara ngalagena hanya berjumlah 18 saja, yakni: /ka ga nga ca ja nya ta da na pa ba ma ya ra la wa sa ha /. Namun, seiring dengan perkenbamgan zaman dan berkembangnya kosakata Bahasa Sunda yang dipengaruhi oleh bahasa Indonesia, maka konsonan disesuaikan dengan penambahan lima aksara ngalagena baru, yakni: / fa, qa, va, xa, za /.

Aksara Ngalagena pada Bahasa Sunda

Aksara Ngalagena (konsonan) pada Bahasa Indonesia

Demikian belajar bahasa sunda di postingan awal kita. Sampai jumpa di minggu depan untuk membahas mengenai penggunaan Rarangkén, angka, dan babasan (peribahasa) dalam Bahasa Sunda.

Jika bermanfaat, silahkan share ya.

Tinggalkan komentar